Komunikasi dalam Keperawatan
Komunikasi merupakan proses yang sangat khusus dan berarti dalam hubungan antar manusia. Pada profesi keperawatan komunikasi menjadi lebih bermakna karena merupakan metoda utama dalam mengimplementasikan proses keperawatan.
1. Pengertian dan jenis komunikasi
Komunikasi merupakan proses kompleks yang melibatkan perilaku dan memungkinkan individu untuk berhubungan dengan orang lain dan dunia sekitarnya. Meurut Potter dan Perry (1993), komunikasi terjadi pada tiga tingkatan yaitu intrapersonal, interpersonal, dan public. Komunikasi interpersonal adalah interaksi yang terjadi antara sedikitnya dua orang atau dalam kelompok kecil, terutama dalam keperawatan. Komunikasi interpersonal yang sehat memungkinkan penyelesaian masalah, berbagai ide, pengambilan keputusan, dan pertumbuhan personal. Menurut Potter dan Perry (1993), Swansburg (1990), Szilagyi (1984), dan Tappen (1995) ada tiga jenis komunikasi verbal, tertulis dan non verbal yang dimanifestasikan secara terapeutik.
A. Komunikasi Verbal
Jenis komunikasi yang paling lazim digunakan dalam pelayanan keperawatan di rumah sakit adalah pertukaran informasi secara verbal terutama pembicaraan dengan tatap muka. Komunikasi verbal biasanya lebih akurat dan tepat waktu. Komunikasi verbal yang efektif harus :
1. Jelas dan ringkas
2. Perbendaharaan kata
3. Arti denotative dan konotatif
4. Selaan dan kesempatan berbicara
5. Waktu dan relevansi
6. Humor
B. Komunikasi non-verbal
Komunikasi non-verbal adalah pemindahan pesan tanpa menggunakan kata-kata. Merupakan cara yang paling menyakinkan untuk menyampaikan pesan kepada orang lain. Perawat perlu menyadari pesan verbal dan non-verbal yang disampaikan klien mulai dari saat pengkajian sampai evaluasi asuhan keperawatan, karena isyarat non-verbal menambah arti terhadap pesan verbal. Perawat yang mendeteksi suatu kondisi dan menentukan kebutuhan asuhan keperawatan . komunikasi non-verbal teramati pada :
1. Metakomunikasi
2. Penampilan peran
3. Intonasi (Nada suara)
4. Ekspresi wajah
5. Sikap tubuh dan langkah
6. Sentuhan
2. Komunikasi Terapeutik Sebagai Tanggung Jawab Moral Perawat
Perawat harus memiliki tanggung jawab moral yang tinggi didasari atas sikap peduli dan penuh kasih saying, serta perasaan ingin membantu orang lain untuk tumbuh dan berkembang. Addalati (1983), Bucalle (1979) dan Amsyari (1995) menambahkan bahwa sebagai seorang beragama, perawat tidak dapat bersikap tidak peduli terhadap orang lain adalah seseorang pendosa yang mementingkan dirinya sendiri. Selanjutnya Pasquali & Arnold (1989) dan Watson (1979) menyatakan bahwa “human care” terdiri dari upaya untuk melindungi, meningkatkan, dan menjaga/mengabdikan rasa kemanusiaan dengan membantu orang lain mencari arti dalam sakit, penderitaan, dan kebberadaanya : membantu orang lain untuk meningkatkan pengetahuan dan pengendalian diri.
3. Teknik Komunikasi Terapeutik
Teknik komunikasi terapeutik menurut Shives (1994), Stuart & Sundeen (1950) dan Wilson & Kneisl (1920) yaitu:
a. Mendengarkan dengan penuh perhatian
· Pandang klien ketika sedang bicara
· Pertahankan kontak mata yang memancarkan keinginan untuk mendengarkan
· Sikap tubuh yang menunjukan perhatian dengan tidak menyilangkan kaki atau tangan
· Hindarkan gerakan yang tidak perlu
· Anggukan kepala jika klien membicarakan hal penting atau memerlukan umpan balik
· Condongkan tubuh kea rah lawan bicara
b. Menunjukan penerimaan
· Mendengarkan tanpa memutuskan pembicaraan
· Memberikan umpan balik verbal yang menapakkan pengertian
· Memastikan bahwa isyarat non-verbal cocok dengan komunikasi verbal
· Menghindarkan untuk berdebat, mengekspresikan keraguan, atau mencoba untuk mengubah pikiran klien.
c. Menanyakan pertanyaan yang berkaitan
d. Mengulang ucapan klien dengan menggunakan kata-kata sendiri
e. Klarifikasi
f. Memfokuskan
g. Menyampaikan hasil observasi
h. Menawarkan informasi
i. Diam
j. Meringkas
k. Memberikan penghargaan
l. Menawarka diri
m. Member kesempatan kepada klien untuk memulai pembicaraan, dll
Tidak ada komentar:
Posting Komentar